Scavenger terkejut melihat Toshi sedang bersama Profesor Baron. Melalui layar mereka melihat Profesor Baron yang berlumuran darah. Toshi segera mencari tempat yang aman untuk berhenti. Dia menemukan tempat aman di kolong jembatan. Dia mengeluarkan perlengkapannya ala dokter dalam tasnya dan mencoba mengobati luka Profesor Baron. Setelah itu, Toshi akan bertanya kenapa dia bisa sampai berada di sini, mengapa kiamat ini bisa terjadi, dan bagaimana mengakhirinya.
Profesor Baron pun mulai bercerita, “Ini semua ulahku.” Ungkapnya. Profesor mengatakan kalau dia yang membuat kesalahan pada program, karena dia sangat tidak suka dengan proyek Profesor Yamaguchi. Dia juga menyuruh anak buahnya diam-diam mengambil dan membuang suku cadang, sehingga proyek itu sulit diperbaiki.
“Aku tidak mengira kalau akibatnya akan separah ini, kupikir ketika Sang Armagedon hancur semua robot itu ikut rusak. Tenyata justru merusak program pengendalian para robot, dengan kecerdasan buatan yang luar biasa.” Tutur Profesor Baron lagi.
Toshi menyimak dengan serius, dia merasa sangat marah, tapi ide baik meluapkan amarah dalam keadaan seperti ini.
“Karena aku yang merusak program itu, jadi aku tahu cara memperbaikinya. Masih ada secercah harapan.” timpal Profesor Baron.
Toshi melihat Profesor Baron sejak tadi menggenggam sebuah kunci. Sekarang dia tahu kenapa Profesor berlumur darah, dia mati-matian melindungi benda itu.
“Kau harus mengantarku ke bangkai Sang Armagedon!” ungkap Profesor Baron padaToshi.
“Profesor, aku sudah sejauh ini dan berjanji akan bertemu dengan teman-teman Scavenger.” Elak Toshi.
“Kalau kau ingin mengakhiri semua ini dengan cepat dan menyelamatkan dunia, kita harus benar-benar pergi, Nak. Sekarang, pilihan ada padamu.” kata Profesor Baron.
“Aku tidak punya banyak waktu menunggumu pulang-pergi, tidak lama lagi aku mungkin akan mati, hahaha..” lanjut Profesor Baron.
Benar. Luka di tubuh Profesor cukup parah.
“Jika aku mati, ambilah kunci ini.” Katanya lagi.
Setelah berpikir, Toshi mengambil langkah dan berkata dengan lantang, “Tidak! kau belum boleh mati, semua ini salahmu, jadi setidaknya kau harus memperbaikinya sendiri sebelum mati.”
Profesor Baron tertawa pelan, “Antar aku ke sana, bocah.”
Toshi memutuskan mengantar Profesor Baron. Dia memacu motornya menuju bangkai Armagedon. Setelah hampir 6 jam, mereka pun sampai.
Belum apa-apa, mereka sudah harus menempuh sistem pertahanan dan puluhan robot pembunuh. Sialnya, hal buruk terjadi. Profesor Baron tidak dapat bertahan. Dia meninggal sebelum mencapai pusat kendali. Toshi menguburkan Profesor terlebih dulu. Beristirahatlah dengan tenang. Batin Toshi. Dia masih harus menyelesaikan misi Profesor. Tidak ada waktu untuk kembali.
Toshi berhasil meretas sistem itu, dipandu Naomi yang seorang hacker. Saat dia sampai di inti mesin, tempat kunci itu seharusnya. Dia heran. Sangat sepi. Tak ada robot sama sekali. Dia langsung berlari, memasang kunci itu untuk membatalkan semua program robot. Hanya beberapa centimeter sebelum kunci itu terpasang, tangannya besi Toshi tiba-tiba lenyap. Dia terlempar ke belakang.
“Toshi!” pekik Naomi dan teman-teman lain yang membersamainya melalui alat komunikasi.
Rupanya serangan plasma. Toshi mengecek sekitar, tidak ada robot sama sekali. Sampai akhirnya dia sadar di depannya ada mesin raksasa yang tidak lain sebuah robot. Senapan plasma dimana-mana.
“Sial, padahal tinggal sedikit lagi.” kata Toshi. Dia sudah pasrah. Lalu sinar plasma dari segala arah menyerangnya. Toshi gugur. Kunci itu masih terletak di lantai. Nampaknya ini akan berakhir buruk, atau selamanya.
-SELESAI-










