Memuat ...

Esoknya, peluncuran proyek tersebut berlangsung meriah. Namun, itu tidak bertahan lama. Hal yang ditakuti Profesor Baron pun terjadi; Sang Armagedon meledak. Dalam sekejap menewaskan hampir semua orang yang berada dalam radius puluhan kilometer. Belum lagi, hancurnya Sang Armagedon membuat para robot men-setting program sendiri; yaitu membantai manusia. Robot-robot itu mulai memburu manusia di seluruh dunia. Sistem pertahanan negara paling maju pun tidak sanggup menghentikan robot-robot itu. Seakan dunia sedang kiamat.

Scavenger, julukan bagi mereka yang berhasil bertahan hidup dari kiamat tersebut. Toshi merupakan salah satu Scavenger yang tersisa di Tokyo. Dia sedang pergi menjalankan tugas ke Eropa saat insiden Sang Armagedon meledak. Sungguh beruntung. Saat mendengar insiden tersebut, dia langsung kembali ke Tokyo, di mana kota itu sudah hancur, benar-benar tidak ada orang di sana. Toshi melihat robot-robot itu mengais reruntuhan, mencari manusia ke segala sudut. Dia sungguh ketakutan, mau kembali ke Eropa pun tidak bisa karena bandara dan sistem transportasi sudah hancur dan rusak. Para petinggi dunia hanya punya satu pesan; bertahan hiduplah dengan cara apapun.

Nampaknya ada sedikit keberuntungan, dengan hancurnya sistem pertahanan negara, gudang penyimpanan senjata pun hancur. Senjata bertebaran dimana-mana. Toshi mengumpulkan senjata tersebut dan memilih satu senapan plasma; senjata yang cukup ringan, tapi memiliki daya hancur yang kuat. Dia memutuskan mencari para Scavenger seperti dirinya. Syukurlah internet masih berjalan lancar.

Toshi mulai dengan membuat postingan di media sosialnya dengan hashtag #Scavenger. Dia pun melakukan pencarian hashtag di internet, ternyata cukup banyak orang yang masih hidup di Tokyo. Dia meminta bantuan, hanya saja kebanyakan orang tidak bisa membantu. Makanan dan peralatan bertahan hidup hanya cukup untuk kebutuhan pribadi.

“Ah.” batin Toshi. Ia pun mengontak orang orang tersebut satu persatu. Setelah beberapa jam, dia membuat grup di media sosial. Grup kumpulan orang-orang yang ingin berjuang bersama; mencari para Scavenger seperti mereka. Tidak banyak, hanya sekitar dua puluh orang. Setelah berunding, mereka pun menetukan pemimpin tim, terpilih tiga orang; Toshi, Naomi, dan Argus. Mereka bertiga adalah ketua tim yang dapat mengambil keputusan serta sikap dalam tim. Syukurlah, para anggota cukup mudah berkomunikasi di era cyber seperti ini. Mereka bisa saling melihat keadaan masing-masing melalui di layar hologram.

“Aku tidak bisa berpikir, aku terlalu lapar.” kata Toshi. Dia pun memutuskan untuk mencari makanan dan air. Sungguh beresiko, dengan puluhan robot pembunuh di luar sana.

“Ya, lebih baik mengambil resiko bisa makan dan minum daripada mati kelaparan” batinnya. Dia bersiap dengan senapan plasma dan peralatan lainnya. Toshi adalah mantan tentara, cukup lihai untuk hal-hal semacam ini. Dia mengecek peta dan mencari minimarket, yang terdekat rupanya berjarak 2 kilometer dari tempatnya sekarang.

“Cukup dekat.” Gumamnya sambil mengangkat senapan, berjalan dengan hati-hati, sesekali memantau keadaan sekitar dengan drone yang dia terbangkan. Apa pun yang drone tersebut rekam akan muncul di layar hologram. Nampaknya ada satu robot yang terlihat. DOR! Hanya dalam sepersekian detik drone itu jatuh tertembak. Toshi segera mencari tempat berlindung.

“Target terdeteksi.” dengarnya.