Memuat ...

BUM! misil yang ditembakkan robot itu hanya meleset sekitar 2 meter darinya. Robot-robot itu memang sangat canggih, mereka mampu mendeteksi makhluk hidup dengan sensor panas tubuh. Toshi berguling dengan sigap, menghindari ledakan. Seketika memasang posisi dan menembak; tepat di kaki. Api dimana-mana. Robot tersebut kehilangan keseimbangan. Toshi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlari sejauh mungkin. Dari kejauhan dia melihat kaki robot itu beregenarasi. Entah bagaimana Profesor Yamaguchi memprogramnya. Sungguh aneh.

Toshi terus berlari menuju minimarket tujuannya. Sesampainya di minimarket, pintu minimarket itu ternyata terkunci.

“Sial.” Dengusnya sambil mendobrak pintu dan berhasil menerobos masuk. Tanpa membuang waktu, Toshi mencari stok air dan makanan. Terdapat cukup banyak persediaan terutama di gudang bawah tanah. Melepas lapar dan dahaga yang sejak tadi cukup menyiksa. Setelah tenaganya pulih, dia mencari kotak obat untuk mengobati telinganya yang terkena serpihan besi tadi. Toshi memutuskan menjadikan minimarket sebagai markas barunya. Dia segera memberi tahu kawan-kawan Scavenger untuk update lokasi terkini mereka.

Belum lama ketenangan berlangsung tiba tiba BUM!

Ada serangan dari atas. Beruntung Toshi ada di gudang bawah tanah. Perlahan dia mengintip keluar, ada satu robot. Dia mengambil senapannya, membidik dari kejauhan. Sepersekian detik sebelum dia menarik pelatuk; DUAR! robot itu menembaknya lebih dulu. Kena, tepat di lengan. Darah merembes, dia kehilangan lengan kirinya. Toshi terjatuh, mengaduh kesakitan. Tidak lama, dengan sigap dia sudah belari ke bawah, mengambil perlengkapannya. Disusul dengan tembakan lain robot itu, Toshi susah payah menghindar sambil membebat lengannya, mencegah kehabisan darah.

Setelah sampai dia menggunaan semacam spray antiseptik dan spray es pendingin, yang dengan segera menutup lengannya yang kini tinggal separuh. Pendarahan berhasil dihentikan.

“Ah, aku masih harus bertahan.” Keluh Toshi bersiap melakukan serangan balasan, mengambil pistol darurat yang ada di dinding minimarket. Alih-alih membidik robotnya, dia membidik lampu dan langit-langit yang merupakan lantai atas gedung dengan ledakan besar. Reruntuhan dari bangunan itu pun menjatuhi sang robot. Meski Toshi tahu bahwa robot itu tidak mungkin mati. Namun setidaknya itu akan memperlampat keadaan. Dia butuh waktu untuk keluar dari sana dan mengemas persediaan makanan, peralatan dan senjata-senjata miliknya. Senapan tadi dia tanggalkan, karena tidak mungkin dia pakai kondisi lenganya sekarang, sayang sekali.

Beruntung, Toshi menemukan satu bangunan kosong tidak jauh dari lokasi pertempuran. Cukup aman, lumayan untuk berlindung. Setelah masuk dan mengawasi keadaan, Toshi menghubungi teman-temannya, siapa tahu ada yang mampu memberikan saran mengenai lengannya. Nampaknya bukan hanya dia yang terluka, beberapa teman, terutama Naomi juga kehilangan daun telinga. Toshi pun memutuskan untuk merakit tangan buatan, tentu dengan bahan seadanya; beberapa tiang dan pecahan besi. Dengan mesin saraf, serta teknologi yang sangat canggih, dibutuhkan waktu beberapa jam saja untuk menyelesaikan sebuah tangan buatan. Agak tidak nyaman memang, tapi bisa dipakai.

Setelah itu, Toshi dan teman-teman kembali melanjutkan rencana; mencari daerah paling sepi dan aman dari robot. Setiap mereka mempunyai usulan. Argus mengusulkan tempat yang cukup menarik; tempat pembuangan besi. Besi-besi berkarat dan lapuk dari seluruh kota dibuang di tempat itu. Ide bagus. Argus melepaskan dronenya, mencari dan melihat lokasi yang dia usulkan. Posisi Argus sendiri tidak jauh dari tempat itu, tapi Toshi, dari lokasinya sekarang berjarak hampir 80 kilometer untuk sampai ke tempat itu. Sangat jauh. Karena sudah disepakati, dia pun tidak mempermasalahkan itu. Para Scavenger akan berkumpul di tempat pembuangan besi kota Tokyo.