Besoknya Toshi berkeliling sambil memakai penyamaran, mencari kendaraan. Dia memakai kain hologram untuk menutupi panas tubuh dari sensor robot-robot itu. Nampaknya berhasil. Akhirnya setelah seharian mencari, dia menemukan sebuah motor. Motor teknologi magnet dengan kecepatan seperti shinkansen. Kunci dan sandi motor itu juga tergeletak tidak jauh dari motor, seperti buru-buru ditinggalkan. Toshi mengecek keadaan motor, ternyata bahan bakarnya habis, lebih tepatnya baterai motor itu habis. Di daerah ini tidak ada listrik, ada pun hanya ada satu sumber yang menjanjikan; para robot.
Apa aku terlalu nekat? Batin Toshi. Namun, hanya ini satu-satunya cara yang bisa dia pikirkan. Dia harus melakukannya, jika tidak maka dia tidak akan bisa bertemu dengan para Scavenger.
“Baiklah, saatnya berburu robot!” tukasnya dengan mantap.
Toshi memulai pemburuannya. Tidak sulit menemukan robot di daerah ini.
“Kena kau!” lirihnya saat menemukan sebuah robot dijalanan kota. Toshi melempar sebatang besi untuk mengalihkan perhatian robot itu. Berkat kain hologram, keberadaannya tidak terdeteksi sensor robot. Toshi berlari dengan cepat, menembak robot tersebut tepat di mata(kamera)-nya. Kemudian, menggunakan linggis Toshi membuka bagian belakang robot dan mengeluarkan power bank dengan cadangan besar dan memindahkan energinya. Hanya butuh beberapa detik sampai energi terisi penuh. Sulit dipercayai, dia berhasil. Karena hari sudah malam, dia memutuskan memulai perjalanan besok pagi. Sebagai persiapan Toshi langsung mengisi baterai motor yang dia temukan siang tadi, mengemas barang-barang yang dia perlukan untuk perjalanan, lalu beristirahat, tenaganya cukup terkuras hari ini.
Pagi harinya, Toshi langsung menuju tempat pembuangan besi. Sepanjang perjalanan, dia menemukan puluhan robot dan sebisa mungkin menghidari kontak. Kain hologram membuatnya dalam mode tidak terdeteksi. Baru berjalan sekitar 20 kilometer.
“DUARR!” ada manusia diserang. Toshi langsung berpikir untuk membantunya. Dia menabrakkan motornya ke robot itu, membuat korsleting. Lalu segera membawa orang itu pergi. Menjauh, dari robot itu. Nampaknya orang itu tidak terluka.
“Siapa namamu?” tanya Toshi memulai pembicaraan.
“Baron, Profesor Baron” jawab orang itu. Toshi kaget. Dia segera menghentikan motor dan menghubungi teman temannya. Profesor Baron yang dulunya tangan kanan Profesor Yamaguchi pasti mengetahui sesuatu pikirnya.
“Teman-teman, kita punya kuncinya.”










