Saat pertama kali masuk keraton, mata kita tertuju pada bangunan Gladhag Pangurakan, sebuah gerbang utama atau benteng pertahanan untuk bisa memasuki Keraton Jogja.
Setelah melewatinya, para siswa mendapat penjelasan bangunan-bangunan hingga koleksi barang antik bersejarah yang ada di keraton.
Sebut saja Bangsal Pagelaran atau Tragtat Rambat di mana dulunya tempat ini adalah ruangan untuk bertemunya Abdi Keraton ketika ingin menghadap Sultan.
Kemudian siswa melihat pertunjukkan wayang kulit, benda peninggalan kerajaan, seperti pusaka berbentuk keris, gamelan, barang-barang dan seragam peninggalan Abdi Dalem, batik, dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Turnamen Kasti AABS, Lestarikan Budaya Olahraga Tradisional



Benteng Vredeburg
Setelah puas mengunjungi Keraton Jogja, langkah kaki siswa-siswi SMA AABS terus berlanjut ke lokasi wisata lainnya, yakni Benteng Vredeburg.
Di Benteng Vredeburg yang terletak di titik Nol Pusat Kota Yogyakarta ini, kami belajar mengenai sejarah perjuangan Bangsa.
Benteng Vredeburg merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda yang di dalamnya terbagi dalam beberapa jenis koleksi, antara lain bangunan, diorama peristiwa bersejarah, peta, miniatur, dan lain-lain.
Diorama-diorama di museum ini merupakan sumber belajar sejarah yang menarik, karena kita dapat melihat gambaran peristiwa-peristiwa bersejarah dengan konsep 3D.
Beberapa di antaranya peristiwa masuknya pasukan Jepang ke Yogyakarta, kongres Jong Java di Yogyakarta, perlawanan Pangeran Diponegoro, dan lainnya.
Tak lupa perjalanan outdoor study ditutup dengan jalan-jalan di sekitar Jalan Malioboro, baik sekadar memanjakan mata setelah belajar seharian, maupun berburu kuliner dan oleh-oleh khas Jogja.













